Hyoyeon!

Hyoyeon!
OMO... How perfect she is, right?

Kamis, 16 Mei 2013

My #1st Fan Fiction (Princess Katerinna and the Witches) Part 3


-Minggu kedua-

2 hari pertama adalah latihan fisik sebelum kami mulai masuk latihan menari dan koreografi, kami dibimbing oleh Mrs. Kwon Yuri. Dia guru yang terbilang ramah, cantik, tinggi, dan manis. Tapi dari semua itu yang paling menarik perhatianku juga teman-temanku yang lain adalah tubuhnya. Lingkar pinggangnya kecil dan membuat dia tampak lebih ‘seksi’ dibanding guru-guru yang lain.



“Sore semuanya… Untuk hari ini dan besok, kita akan mulai latihan fisik. Kita akan berlari, melompat, berenang, senam, yoga, selain itu saya juga akan mengatur pola makan kalian, makanan apa saja yang harus, boleh dan tidak boleh kalian makan. Jadi bersiap-siaplah.”
Latihan hari ini dimulai dengan pemanasan lalu berlari mengitari aula sebanyak 15 menit, dilanjutkan dengan senam selama sejam dan yoga. Cukup menyenangkan latihan bersama Mrs. Yuri ia cukup sabar dalam menghadapi kemanjaan kami.
Pada suatu ketika kakiku tidak sengaja menginjak kaki Seohyun. Kontan saja Seohyun langsung menjerit sambil merutuki perbuatanku. Lalu dengan sabar Mrs. Yuri datang dan memberi perhatian, ia tidak memarahiku atas kecerobohanku, ia hanya meminta agar aku tidak mengulanginya dan harus lebih berhati-hati lagi. Selanjutnya ia memberikan pertolongan pertama pada luka Seohyun yang tidak begitu parah.
Dihari kedua kami kembali latihan fisik, kali ini kami berenang, dan melatih kamampuan menahan napas kami didalam air. Yang memegang rekor terlama adalah Hyorin dengan waktu 4 menit, sedangkan dengan waktu tercepat hanya 2 menit adalah Jiyeon. Sedangkan aku sendiri hanya mampu 3 menit lebih sedikit.
“Sayuran… Makanlah sayuran setiap hari, itu harus menjadi makanan utama kalian setiap hari. Setelahnya makanlah buah, jangan lupa untuk banyak meminum air putih, jus, sari buah, susu segar. Hindari makanan yang berminyak karena akan merusak suara kalian, jangan pula meminum minuman yang dingin. Ingat jaga kondisi suara kalian serta kesehatan kalian. Oh iya istirahatlah yang cukup.” Begitulah kata Mrs. Yuri sebelum menutup sesi latihan kali ini.
***

Hari-hari selanjutnya diminggu ini adalah latihan menari, kami dibimbing oleh Ms. Kim Hyoyeon, salah satu dari 2 guru di Kirin yang belum menikah. Ia merupakan sosok yang cantik, dengan rambut lurus, pirang dan panjang serta senyuman yang unik membuat dia terlihat memiliki kecantikan yang berbeda dibanding guru-guru wanita lain.



Ia merupakan guru dance kelas Vocal 1, kualitasnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Semasa sekolahnya ia habiskan di sekolah-sekolah tari yang terkenal di Korea, maka tidak heran kalau ia bisa hampir semua jenis tarian. Mulai dari hip-hop, ballet, sampai tarian-tarian latin. Aku jadi tertarik untuk diajar olehnya, sayangnya ia merupakan guru yang keras dalam mengajar jadi aku agak tegang jika harus berhadapan dengannya.
“Untuk Taeyeon dan Wooyoung, kalian akan berdansa selama 30 detik. Selanjutnya ada adegan Taeyeon dan ketiga peri penjaga yang menari ballet bersama, dan untuk para penyihir serta keempat peri hitam akan menari hip-hop, shuffle, waving dan popping.” Katanya menjelaskan jenis tarian apa yang akan kami tarikan saat pentas. “Jujur aku agak tertarik dengan yang terakhir.” Katanya sambil melihat si penyihir kembar dengan keempat dayang-dayangnya.
“Dimulai dengan ballet yang dilakukan Taeyeon dengan ketiga peri. Taeyeon, Soyeon, Luna, Fei kalian silakan maju.” Lalu kami berempatpun maju dengan ragu-ragu.
“Silakan kalian mulai menari ballet, aku ingin lihat kemampuan kalian.” Lanjut Ms. Hyoyeon.
Kami berempat mulai menari dan yang terjadi adalah kekacauan. Sikut kami saling bersentuhan, kaki kami saling menginjak satu sama lain bahkan Fei dan Luna saling bertabrakan hingga terjatuh. Teman-teman yang lainpun mulai tertawa.
“Kacau!!! Parah!!! Apa dikelas Vocal 2 dan 3 kalian tidak pernah diajari menari ballet oleh Mrs. Min??” Katanya dengan nada tinggi. Kamipun hanya diam termasuk teman-teman kami yang tadi tertawa, mereka mendadak diam.
“Kalian, tunjukkan pada mereka tarian ballet yang aku ajarkan.” Katanya sambil menunjuk ketiga muridnya dari kelas Vocal 1.
Jujur saja mereka menari dengan sangat baik, walaupun gerakan mereka berbeda satu sama lain, namun tetap terlihat harmonis dan cantik. Aku jadi malu, Mrs. Min memang selalu mengajarkan pada kami, para perempuan, cara menari ballet, namun entah mengapa selalu sulit untuk kami melakukannya. Dan di kelasku pun hanya Seohyun yang dapat menari ballet dengan sempurna, selebihnya?? Jangan ditanya.
“See?? Itulah yang namanya seni menari ballet, tidak seperti kalian.” Katanya tegas.
Namun dibalik kekejamannya ia masih menyimpan hati nurani, buktinya ia masih mau untuk mengajarkan kami menari ballet dengan baik dan benar dari awal posisi yang harus diambil oleh seorang ballerina sampai cara membungkuk yang baik untuk menghargai tepuk tangan penonton.
Dan hasilnyapun dalam waktu satu jam, aku dan ketiga temanku dapat menari ballet bagian kami dengan lebih baik dari sebelumnya. Bayangkan kami dapat menari ballet dengan benar dalam waktu kurang dari sejam oleh Ms. Hyoyeon bandingkan dengan Mrs. Min yang mengajarkan ballet pada ketiga temanku dari tahun pertama di Kirin, sangat berbeda jauh hasilnya. Itulah kehebatan dan kualitas Ms. Hyoyeon yang patut diacungi jempol. Aku jadi kagum.
Selanjutnya dansa antara putri dan pangeran sebanyak dua kali, diawal dan diakhir cerita dapat aku selesaikan dengan cepat, karena melakukan dansa ala kerajaan jauh lebih mudah bagiku. Tidak membutuhkan waktu lama, hanya setengah jam aku sudah dapat menguasainya.
Terakhir giliran keenam gadis cantik itu. Si kembar harus menari shuffle ketika berhasil merebut kerajaan dari tangan sang putri. Lalu menari hip-hop ketika berhasil menghalangi putri dengan troll peliharaannya serta popping dan waving dengan keempat peri hitam saat berhasil menjebak Rolland dan membuatnya benci kepada putri.
Namun sepertinya dance itu terlalu berat untuk mereka. Terutama untuk ketiga anak kelas Vocal 2, mungkin mereka terbiasa untuk modern sexy dance, sehingga mereka agak segan dalam menarikan jenis tarian ini, jenis tarian yang agak berbeda.
“Kenapa kalian?! Aku yakin Mrs. Min juga pasti sudah memberikan materi ini kan?!” Tanyanya pada Tiffany, Jessica dan Seohyun. Mereka hanya diam.
“Lalu kenapa kalian masih tidak bisa?! Guru kalian yang tidak becus atau kalian yang terlalu manja dan hanya mau menarikan sexy dance?! Hah?! Jawab!!” sepertinya Ms. Hyoyeon benar-benar kehilangan kesabarannya.
“Sekarang mau kalian apa?! Apa kalian mau keluar dari drama musical ini?! Gampang… Saya hanya perlu mencoret nama kalian, lalu meminta izin Mrs. Sooyoung untuk mengadakan audisi ulang untuk menggantikan kalian!! Kalian mau?!” Mereka bertigapun menggeleng dengan lemas.
“Kalau kalian mau bekerja sama dan menuruti intruksiku, pasti kalian akan bisa dan terbiasa dengan tarian ini, ini akan sangat menyenangkan bagi kalian.” Katanya dengan nada yang jauh lebih lembut. Mereka bertigapun seakan kembali bersemangat dan mulai mencoba melakukannya.
“Ayo Tiffany hentakan kakimu dengan lebih bersemangat. Seohyun tanganmu kurang tinggi, angkat lagi. Jiyeon lekukanlah tanganmu lebih patah-patah, seperti ini. Bagus semua ayo teruskan kerja bagus kalian…” Teriak Ms. Hyoyeon bersemangat.
Satu lagi pembuktian kehebatannya. Dia dapat meluluhkan keegoisan Tiffany dan membuatnya jatuh cinta dengan dunia hip-hop dance dalam waktu yang terbilang singkat. Dan waktu latihan hari inipun berakhir dan akan dilanjutkan esok hari.
***

Hari berikutnya selain kami melakukan pemantapan dance kami, kami juga melakukan koreaografi saat adegan aku dan Rolland melawan dua perampok. Disana kami memasukan sedikit gerakan kungfu dan Taekwondo yang tentunya juga dibantu oleh Ms. Hyoyeon. Selain itu kami juga diajarkan cara menggunakan pedang, dan dasar cara menggunakan pedang adalah melalui olahraga anggar, oleh karena itu nanti pertempuran antara kami dengan kedua bandit akan terasa sangat sengit.
Saat melawan troll kami juga sedikit melakukan gerakan, seperti berputar mengelilinginya dan mengikatnya dipohon. Satu hal yang baru aku ketahui dari Ms. Hyoyeon mengenai dirinya. Diluar mungkin ia dapat terlihat dingin dan angkuh. Namun jika kau tau isi hatinya yang sesungguhnya kau akan tau dirinya yang sesungguhnya, dirinya yang hangat, ramah dan bersahabat.
Yang aku tau sifat dinginnya selama ini disebabkan oleh kepergian calon suaminya bertahun-tahun yang lalu, mungkin itu menjadi pukulan yang keras baginya sehingga membuatnya menyembunyikan dirinya yang sesungguhnya dibalik topeng dingin dan angkuh.
Tapi jujur saja, aku sangat suka dengannya, ke-profesionalitasannya, ide-ide cemerlangnya, inovasinya, dasa imajinatif dan kreatif, ia patut diacungi jempol dan patut dijadikan acuan kami sebagai panutan untuk kami kedepannya. Dan belajar dengannya sangatlah menyenangkan. Andai aku ada di kelas Vocal 1, dia dan mata pelajarannya akan menjadi guru serta mata pelajaran favoritku.
Dan aku berjanji sisa hari diminggu kedua ini akan aku gunakan sebaik-baiknya untuk menyerap semua ilmu yang ia miliki, semua kepribadian yang ia punya, segala sikap yang dimilikinya. Agar aku kelak dapat memiliki wibawa dan profesionalitas yang sama baiknya dengannya.
***

Dihari terakhir diminggu ini Ms. Hyoyeon mengajak kami menonton pertunjukan seni jalanan atau yang biasa disebut ‘street art performances’ disekitar daerah Seoul, kami pergi dengan tiga buah mobil, masing-masing mobil memiliki kapasitas 5 orang. Di mobil Ms. Hyoyeon terdapat Ms. Hyoyeon, Luna, Jiyeon, Seohyun serta Kyuhyun.
Di mobil Fei, selain dirinya juga terdapat Soyeon, Jessica, Hyorin serta Jonghyun. Yuppss… Dan sisanya di mobil Wooyoung ada aku, kedua fans fanatic Wooyoung serta fans setianya Sandara.
“Aku yang duduk didepan.” Kata Sandara sambil menuju pintu mobil.
“Enak aja, aku yang duduk didepan…” Tiffany tidak terima dan menghalangi jalan Sandara.
“Aku… Awas…”
“Enggak… Aku…”
“Akkuuuu…”
“Akkkuuuuuu…” Dan merekapun kembali mulai berteriak.
“Stoooppp…” Wooyoung mencoba untuk melerai. “Biar Taeyeon yang duduk didepan.”
“Noooo!!!” Kata mereka berbarengan seraya melihat aku dan Wooyoung secara bergantian dengan tatapan yang mengandung seribu makna.
Akhirnya setelah perdebatan panjang, diputuskanlah yang duduk didepan adalah Taeyang, tampak ia agak sedikit kecewa, mungkin yang ia inginkan adalah duduk bersebelahan dengan pujaan hatinya (read: Sandara).
Aku duduk ditengah mereka berdua, sungguh posisi yang tidak menyenangkan, mereka mencoba membuatku tidak nyaman, dan sejujurnya mereka berhasil membuatku tidak nyaman selama diperjalanan yang memakan waktu 25 menitan itu.
Di pusat kota Seoul memang selalu ada pertunjukan seni jalanan, entah dari orang-orang Korea maupun orang dari negera lain yang sedang melakukan tradisi backpacking. Pertunjukannya pun bermacam-macam, ada yang bermain musik, bernyanyi, menari, manusia patung, bahkan sandiwara.
Setelah mencari disetiap sudut akhirnya kami melihat sekelompok orang yang sedang menari, mereka merupakan backpacker asal Amerika karena selain wajahnya yang benar-benar seperti Yankee tidak jauh dari tempat mereka menari aku dapat melihat tas-tas yang sangat besar. Mereka terdiri dari 3 orang, 2 orang laki-laki dan seorang perempuan.
Mereka menarikan tarian hip-hop dengan sedikit sentuhan modern dance. Tarian mereka menarik, unik dan lucu, pasionnya pun juga berbeda serta sangat terasa profesionalitasnya. Feelingku Ms. Hyoyeon akan menggukan tarian mereka untuk memperkaya gerakan dance bagi si kedua penyihir. Dan tebakanku benar…
“Perhatikan itu, aku akan menamabahkan gerakan itu pada tarian kalian.” kata Ms. Hyoyeon pada mereka, Tiffany dan kawan-kawan.
Sayangnya kami tidak menemukan pertunjukan sandiwara di jalan. Namun di ujung jalan, ada 3 orang manusia patung yang menarik perhatian Ms. Hyoyeon. Manusia patung yang pertama merupakan seorang ksatria berpedang yang gagah berani yang sedang mengarahkan pedangnya kepada manusia patung yang lain yang berbentuk seekor burung elang raksasa.
Namun ada yang aneh, dibelakang ksatria itu ada seorang putri cantik, ia duduk dengan anggun, tampak tenang dengan tangan yang mengepal seperti sedang berdoa. Aku heran, padahal ksatria itu seakan-akan rela berkorban deminya melawan elang raksasa untuk dapat melindunginya, tapi kenapa sang putri tampak seolah-olah tidak sedang terjadi apa-apa anta ksatria dan si elang raksasa?
“Ia percaya pada sang ksatria. Ia percaya kalau ksatrianya dapat melindunginya. Jadi ia bersikap seperti itu, tenang dan hanya berdoa memohon yang terbaik.” Tiba-tiba suara Ms. Hyoyeon membuyarkan lamunanku. Ia menatap lurus pada ketiga patung itu tanpa menoleh kearahku, ia seakan berbicara dengan siapa saja yang mendengarkannya.
“Kamu harus dapat seperti mereka, berani seperti sang ksatria, sekaligus anggun dan bersikap tenang seperti sang putri. Pelajarilah ekspresi mereka, maka aku yakin kau akan dapat mendalami karakter Putri Katerinna dengan baik.” Katanya sembari melihat kearahku. Pesan dari Ms. Hyoyeon itu benar-benar menggugah hatiku untuk menumbuhkan Putri Katerinna dalam diriku.
***

-Minggu ketiga-

Minggu ini adalah latihan vokal, dan guru pembimbing kami ialah Ms. Sunny Lee. Ia belum menikah, pribadi yang ceria, usianya juga masih terbilang muda. Wajahnya imut dan manis dengan senyum yang juga unik seperti Ms. Hyoyeon, sama unik namun berbeda keunikannya, dan yang aku suka adalah ketika ia senyum, maka matanya ikut tersenyum dan membentuk ‘eye smile’. Rambutnya pendek dan pirang, tubuhnya memang tidak terlalu tinggi, tapi aku rasa tinggi tubuhnya cukup ideal dengan berat badannya. Ia terlihat agak berisi.



Ia guru vokal kelasku, kelas Vocal 2. Jadi aku akan dengan mudah bekerja sama dengannya, berbeda dengan guru-guru sebelumnya yang membimbing kami, karena mereka semua  guru dari kelas Vocal 1. Entahlah kenapa bukan Mrs. Boa yang merupakan guru kelas Vocal 1 yang membimbing kami.
Suara Ms. Sunny merupakan jenis suara kesukaanku, suaranya berkarakter imut, walau imut namun suaranya sangat kuat, terlebih lagi suara kepala atau yang biasa disebut falsetto miliknya benar-benar indah dan tinggi. Dengan suara seperti itu ia dapat mencapai nada tertinggi sekalipun. Mungkin…
“Baiklah… Sekarang saya akan membacakan lagu yang akan kalian nyanyikan. Sebagian ada yang merupakan lagu yang terkenal, sebagian lagi lagu yang saya karang sendiri.” Kata Ms. Sunny dengan nada ceria dan bersemangat.
“Dimulai dengan pemeran utama, Taeyeon kamu akan menyanyikan lagu ‘Skyscraper’ milik Demi Lovato ketika kedua penyihir merebut kerajaan darimu, lalu ‘When You’re Gone’, ‘Don’t You Remember’ dan ‘I Will Always Love You’ ketika Rolland pergi meninggalkanmu karena marah. ‘A Thousand Years’ berduet dengan Wooyoung ketika kalian kembali rujuk. ‘My Heart Will Go On’ ketika Rolland disihir oleh Terremar serta kau dan Wooyoung menyanyi ‘A Whole New World’ ketika Rolland kembali hidup.”
“Rolland, selain ‘A Thousand Years’ dan ‘A Whole New World’ kamu juga akan menyanyikan lagu ‘Jar Of Hearts’ milik Christina Perri, ‘You And I’ milik Lady Gaga, serta ‘Just The Way You Are’, ‘Fall For You’ dan ‘I’m Yours’.”
“Untuk Terremar dan Maressen, kalian akan banyak berduet, pertama di lagu ‘The Edge Of Glory’, ‘Monster’ dan ‘The Fame’ milik Lady Gaga. ‘Magic’ milik Selena Gomez. ‘We Are the Champion’, ‘Baby’ dan ‘You Belong With Me’.”
Ms. Sunny membacakan daftar lagu yang akan kita nyanyikan serta dibagian mana kami menyanyikannya secara rinci, beberapa merupakan lagu artis-artis internasional dan beberapa lagu untuk troll, perampok serta keempat peri hitam merupakan lagu buatannya, karena sulit untuknya menemukan lagu yang tepat untuk karakter tokoh mereka.
“Taeyeon bagaimana kalau saya naikan satu oktaf?” Kata Ms. Sunny ditengah-tengah latihan.
“Hm… Tapi saya tidak yakin Ms.” Kataku ragu.
“Saya yakin kamu bisa, asalkan kamu mau mencoba.”
“Baiklah.”
Begitulah sesi latihan kali ini selesai tepat pada waktunya, karena berhubung hari ini hanya latihan dasar vokal. Dan seperti biasa Ms. Sunny memberi nasihat agar kami semua menjaga suara dan kesehatan. Ia juga mengatakan drama musical kali ini sangat penting, karena penghasilannya akan disumbangkan ke beberapa Negara miskin di Afrika. Jadi ia berpesan agar kami melakukan yang terbaik.
***

Keesokan paginya, ketika aku sampai kelas, secara mendadak Soyeon menghampiriku. Ia mendekatkan wajahnya, menarikku ke mejaku dan mulai berbisik.
“Tadi Wooyoung menitipkan pesan padaku.” Katanya berbisik pelan sambil melihat ke sekeliling kelas seakan takut kalau ada yang mendengar.
“Ia bilang kalau nanti, kalau boleh ia akan main kerumahmu, setelah selesai latihan, ia ingin latihan lagi bersamamu untuk lebih menyesuaikan suara pada lagu duet kalian. Oh, iya ia juga meminta nomor handphonemu.” Katanya. Aku baru sadar kalau selama aku sekolah di Kirin, hanya nomer Luna dan Soyeon yang aku miliki. Karena sejujurnya aku memang agak kurang tertarik dengan ‘Short Message Service’ apalagi telpon-telponan.
“Ini,” kataku pada Soyeon sambil menyerahkan kertas kecil dengan nomer handphoneku yang tertera di dalamnya.
“Kenapa ia tak bicara langsung denganku? Dan kenapa ia tidak meminta nomerku sejak dulu?”
“Kau lihat Sandara, Tiffany dan kawanannya masing-masing sedang memperhatikanmu daritadi, Taeyeon… Mana mungkin Wooyoung berani mendekatimu dengan situasi seperti ini, ia khawatir dengan keselamatanmu. Sedangkan pertanyaanmu yang kedua, aku tidak tau, mungkin ia baru kepikiran sekarang untuk meminta nomermu kali. Entahlah…” Katanya.
“Jadi gimana? Boleh dia latihan bersamamu?” Lanjutnya.
“Tentu saja,” Kataku mantap.
“Baiklah aku akan ke kelas sebelah dulu…” Katanya bersemangat.
***

Sepulang latihan, sesuai rencana aku akan pergi keparkiran ketika keadaan mulai aman. Dan ketika adu sudah ada didepan mobil Wooyoung ternyata Jiyeon dan Seohyun melihat kami, dan kontan saja mereka langsung melapor pada atasannya masing-masing. Mengetahui hal itu Wooyoung memberiku aba-aba untuk segera masuk.
Dan ketika kami keluar gerbang Kirin kami sadar bahwa dibelakang kami mobil Sandara dan Tiffany sedang mengikuti kami, tepat dibelakang kami. Wooyoung menambah kecepatan mobilnya, ia tidak langsung menuju rumahku, namun ia mengelilingi kota Seoul terlebih dahulu dengan tujuan agar mereka merasa kelelahan.
Setelah setengah jam kami berputar-putar, kami sudah tidak melihat mobil mereka lagi. Kami sudah merasa aman, dan akhirnya kamipun berputar menuju rumahku. Ketika sampai di gerbang, ketika aku hendak membuka gerbang dengan sangat terkejut aku melihat mobil mereka; Tiffany dan Sandara tepat dibelakang mobil Wooyoung.
“Taeyeon, kamu bawa banyak teman yaa??” Tiba-tiba mama datang dengan muka berseri. Kelihatannya mama sangat bersemangat menyambut teman-temanku ini.
“Ayo masuk silakan, Taeyeon buka gerbangnya untuk mereka. Cepat. Mama akan buatkan minum dulu.” Perintah mama.
“Baik ma.” Akupun membukakan gerbang, mempersilakan mereka masuk dan duduk.
“Ini, silakan.” Kata mama sambil menaruh gelas-gelas dan sepiring kue kering diatas meja.
“Wah, terima kasih ya tante, jadi ngerepotin,” Kata Sandara dengan wajah tersenyum. Selama sebulan ini baru kali ini aku melihat ia tersenyum seperti itu.
“Kenalkan dong teman-teman kamu sama mama. Terus, Luna sama Soyeon gak ikut Taeng?”
“Aku Sandara tante, salam kenal.”
“Aku Tiffany.”
“Saya Wooyoung tante.”
“Sandara dan Tiffany kalian mirip. Apa kalian kembar?”
“Bukan!!!” Jawab mereka kompak dengan muka jutek.
“Dan Wooyoung… Jangan-jangan kamu pacarnya Taeyeon ya? Karena kamu laki-laki pertama yang diajak Taeyeon main kerumah? Hahaha…” Kata mama sambil tersenyum meledek kearahku.
“Bukan!!!” Lagi-lagi Tiffany dan Sandara berteriak dengan kompak.
“Belum tante, tapi semoga aja secepatnya.” Kata Wooyoung malu-malu, akupun jadi ikut malu karena kata-katanya. Sedangkan si Barbie kembar itu cemberut dan terlihat menyeramkan.
“Tante dukung kok, hahaha.”
“Maaa… Sudaah ahh…”
“Kenapa? Yasudah ya, tante tinggal ke belakang dulu, ada kerjaan.” Kata mama sambil tersenyum kearah Wooyoung, Tiffany dan Sandara secara bergantian. Sandara dan Tiffany membalasnya dengan senyuman yang dipaksakan.
“Jadi kalian mau apa kesini? Tanya Wooyoung dengan lembut.
“Kami ingin ikut latihan? Keberatan? Kau tidak keberatan kan Taeyeon?” Tanya Tiffany.
“Tidak kok. Tidak sama sekali.” Kataku pasrah.
Dan selama satu jam kami habiskan dengan latihan bersama. Tiffany dan Sandara terlihat makin agresif kepada Wooyoung, dan entah mengapa hatiku merasa panas melihatnya. Aku benar-benar ini cepat berakhir. Aku tidak fokus dengan naskahku, dance-ku pun kacau, dan nada-nada di laguku ada yang meleset.
“Kamu kenapa? Lagi gak konsen ya kayaknya?” Tanya Wooyoung penuh perhatian.
“Iyaa…” Kataku lemas.
“Kenapa?”
“Kecapekan mungkin…” Potong Sandara sebelum aku sempat menjawab pertanyaan Wooyoung.
“Bisa jadi karena dia tidak suka kalau kau ada disini Sandara.” Kata Tiffany memancing.
“Enak aja, kamu tuh yang bikin mood orang berantakan.”
“Jangan asal ngomong deh.”
“Stop! Stop! Jangan berteriak di rumahku, aku tidak enak dengan mama yang sedang istirahat.” Kataku tidak sadar telah membentak mereka.
“Berani kau membentakku?” Sandara terlihat marah.
“Lihat saja, tunggu perhitungan dariku.” Kali ini Tiffany yang mengancam.
“Untung ini di rumahmu, aku masih menghargai mamamu,” Kembali Sandara mengancam.
“Kalian ini apa-apaan sih? Kalian sama kayak orang yang gak tau diri… Kalian datang dengan tidak diundang, tapi Taeyeon tetap mengizinkan kalian masuk. Lalu kalian dengan seenaknya membuat ribut di rumahnya, dan ketika kalian ditegur oleh tuan rumah. Kalian justru mengancamnya. Memalukan… Mana sopan santun kalian?” Wooyoung terlihat marah pada mereka, aku jadi merasa tidak enak.
“Sudahlah, tidak apa-apa… Aku yakin mereka tidak bermaksud benar-benar mengancamku.” Kataku membela mereka, aku tidak tega melihat mereka dibentak seperti itu.
“Yasudahlah, lebih baik kami pamit pulang saja… Aku juga sudah tidak enak dengan mamamu karena sudah membuat kegaduhan malam-malam begini.” Kata Wooyoung dengan bijak.
“Hati-hati yaa…” Kataku. Kedua perempuan itupun mengikuti langkah Wooyoung yang menuju pintu keluar.
Sebenarnya aku benar-benar takut dengan ancaman mereka, terutama Sandara, karena setahuku ia anak yang cukup nekat. Sungguh aku benar-benar khawatir. Tapi aku hanya perlu percaya bahwa Wooyoung akan menjagaku dari kedua orang itu. Aku harus berpikir tenang dan berdoa untuk kebaikan kita semua termasuk Sandara dan Tiffany.
***

My #1st Fan Fiction (Princess Katerinna and the Witches) Part 2


Baru aku melangkah masuk gerbang, sudah ada beberapa murid yang membicarakanku,
“Waw… Siapa itu?”
“Cantik sekali,”
“Apa dia anak baru?”
“Tapi dia mirip murid di kelas Vocal 2 yang penampilannya agak aneh itu.”
“Hah? Taeyeon maksudmu? Tidak mungkin, mereka berbeda jauh, sangat jauh.”
“Dia bahkan lebih cantik dari Tiffany maupun Sandara.”
Ya Tuhan, apa mereka benar-benar sudah tidak mengenaliku lagi? Waw untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa menjadi pusat perhatian, jadi begini ya rasanya menjadi orang yang diperhatikan. Aneh namun menyenangkan.
Karena terlalu asik dengan sanjungan, tanpa sadar aku menabrak seseorang. Dan ketika aku hampir jatuh, ia menahan tubuhku, mungkin karena salah posisi, akhirnya kami berdua terjatuh kelantai dengan posisi dia berada diatas tubuhku serta wajah kami saling berhadapan. Alangkah terkejutnya aku, bahwa ternyata orang yang aku tabrak dan kini berada dihadapanku adalah Wooyoung.
Entah kenapa aku merasakan adanya getaran tiap kali melihat matanya, namun aku segera sadar akan kerumunan orang yang memperhatikan kami dalam posisi tersebut dan saling bertatapan selama 30 detik.
“Oh, maaf…” Katanya lembut.
“Enggak apa-apa kok. Aku juga gak terluka dan ini bukan sepenuhnya salahmu, jadi gak perlu minta maaf.”
“Okey, by the way… Kamu anak baru?”
“Iya bisa dibilang begitu, karena aku baru dua hari disini.”
“Ohh, nama kamu siapa?”
“Taeyeon, Kim Taeyeon.”
“Aku Wooyoung. Senang bertemu denganmu… Kalau begitu sampai jumpa lagi ya.” Katanya sambil berlalu bersama dengan kedua temannya yang aku tebak pasti bernama Jonghyun dan Kyuhyun.
Ternyata tanpa sepengetahuanku, dua bidadari hitamnya Wooyoung alias Tiffany dan Sandara, sedari tadi memperhatikan aku dan Wooyoung. Mereka menatap dengan mata yang penuh dendam kearahku, dan aku jadi punya firasat yang enggak enak soal ini.
***

Bel pun berbunyi, dan karena hari ini sedang tidak ada kegiatan belajar mengajar, maka semua siswa-siswi Kirin, harus menuju ke aula utama. Kelas yang mendapat bagian pertama tampil adalah kelas Vocal 1, lalu Vocal 3 dan terakhir kelasku kelas Vocal 2.
“Audisi diadakan dalam 3 tahap, tahap pertama, audisi acting yang akan dinilai oleh Mrs. Yoona, Mr. Minho dan Mrs. Ara, lalu selanjutnya audisi menari yang akan dinilai oleh Ms. Hyoyeon, Mr. Yunho dan Mrs. Victoria dan terakhir yang paling penting audisi menyanyi yang akan dinilai oleh Mrs. Boa, Mr. Yesung dan saya sendiri Ms. Sunny.” Jelas Ms. Sunny yang merupakan guru vokal di kelas Vocal 2.
Audisi pertamapun dimulai serta dilakukan eliminasi, dari 45 siswa tingkat 2 kelas Vocal Kirin, hanya 7 yang gagal, selebihnya masuk ketahap berikutnya. Audisi berikutnya menari, pada tahap audisi ini banyak yang gugur dan dari 38, hanya 13 yang lulus, termasuk aku dan kedua sahabatku. Ditahap ini lebih banyak laki-laki yang gugur.
Audisi tahap terakhirpun dimulai… Hatiku berdebar-debar rasanya. Sesuai urutan, siswa yang pertama tampil dari kelas Vocal 1.
“Siap-siap takjub.” Kata Soyeon yang duduk disebelahku.
“Merekalah yang terbaik dari baik.” Tambah Luna.
Dan benar saja, mereka; murid-murid kelas Vocal 1, memang luar biasa. Yang tampil pertama dari kelas Vocal 1 adalah Jiyeon; penampilannya energic, lalu Jonghyun; sangat menawan, Kyuhyun; begitu powerfull, selanjutnya Sandara; suaranya berkarakter, Wooyoung; paket yang komplit dalam menyajikan pertunjukan, yang terakhir dari kelas Vocal 1 adalah Hyorin, dia benar-benar seperti diva, suaranya melengking, tinggi dan stabil. Aku pesimis dapat mengalahkannya.
Selanjutnya kelas Vocal 3, dari 15 siswa hanya 1 yang lolos audisi sampai ketahap ini, ia adalah Fei, dan suaranya tidak kalah merdu dari Hyorin, ia juga energic dan attractive dalam melakukan dance, dan ketika aku bertanya pada Luna, kenapa orang yang begitu berbakat dimasukan ke dalam kelas Vocal 3, jawabannya begitu mencengangkan dan membuatku heran. Jawabannya begitu simple dan konyol yaitu… Ia merupakan keturunan China tanpa ada darah Korea. Konyol.
Akhirnya tiba juga, kelasku, kelas Vocal 2 mendapat gilirannya. Yang pertama dipanggil adalah Jessica, ia bernyanyi lagu upbeat dengan teknik vokal yang sangat mempesona. Selanjutnya Seohyun, suaranya berat, namun stabil dan berkarakter kuat. Lalu Soyeon, sahabatku itu menyanyikan lagu yang sama dengan yang dibawakannya kemarin, dan aku tetap merinding mendengar suara merdunya. Luna merupakan peserta berikutnya, ia juga menyanyikan lagu yang sama, dengan pembawaan yang tetap ceria dan penampilan panggung yang menghibur.
Selanjutnya si gadis berambut merah, Tiffany yang mendapat giliran bernyanyi, ia menyanyikan lagu ‘Lost in Love’ (lagu duetnya Tiffany dan Taeyeon) milik girlgroup nomer satu di Korea dalam versi bahasa Inggris. Suaranya indah, nadanya pas, dan stabil, selain itu suaranya agak serak dan membuat kesan agak sedikit ‘rock’ pada suaranya. Penjiwaannya pas, kalau tadi aku merinding karena suaranya Soyeon, sekarang aku terharu karena suaranya Tiffany.
“Oke, yang terakhir, Kim Taeyeon…” Tanda dari Ms. Sunny yang menandakan bahwa sekaranglah giliranku.
“Apa yang akan kamu nyanyikan Taeyeon?” Tanya Mrs. Boa yang merupakan guru vokal kelas Vocal 1.
“Saya akan menyanyikan lagu ‘I Will be waiting for You’ (lagunya Seohyun).”
“Great… Bernyanyilah yang bagus, jangan kecewakan penyanyi aslinya.” Kata Mr. Yesung.
Aku bernyanyi sebisaku, semampuku, dan sepenuh hatiku. Dan ketika aku selesai menyanyikan lirik terakhir, sorak sorai para murid lain terdengar begitu nyaring di ruang aula ini, sepertinya mereka menyukainya. Syukurlah.
“Baiklah, kamu boleh kembali.” Kata Ms. Sunny. “Pengumumannya satu jam lagi, jadi kita istirahat selama satu jam dan kembali lagi berkumpul di sini untuk mendengar hasil pengumumannya.” Lanjutnya.
***

“Apa aku bilang, mereka pasti terpukau dengan suaramu… Iya gak Lun?” Luna pun hanya mengangguk penuh semangat untuk menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
“Syukurlah… Ini juga berkat kalian, kalian yang menumbuhkan kepercayaan diriku.”
“Itulah gunanya sahabat.” Dan kamipun berpelukan dengan sangat erat.
Teeeeeeeeeeennnnnnnnnnnggggggg…
Bel tanda berkumpulpun terdengar, kami dengan sigap langsung menuju aula utama Kirin Art School.
“Baiklah, dimohon maju, kepada; Sandara Park, Kim Hyorin, Park Jiyeon, Jang Wooyoung, Kim Jonghyun dan Cho Kyuhyun dari kelas Vocal 1. Tiffany Hwang, Jessica Jung, Seo Juhyun, Kim Taeyeon, Park Soyeon dan Luna Park dari kelas Vocal 2. Serta Wang Fei Fei dari kelas Vocal 3.” Perintah Ms. Sunny.
Kami ber-13 pun maju dan berjejer sesuai urutan nama yang disebutkan tadi. Deg-degan rasanya, kalau aku berhasil mendapat peran di drama ini walaupun kecil, pasti mama akan bangga padaku.
“Hanya ada 7 pemeran utama disini, oleh karena itu kami memilih berdasarkan rata-rata dari penilaian kalian, bukan hanya pada audisi menyanyi, tapi juga pada audisi menari dan acting. Dan yang akan membacakan hasil ini adalah kepala sekolah kita Mrs. Choi Sooyoung.”
“Baiklah, tanpa berpanjang lebar… Yang pertama… Dari kelas Vocal 1, selamat kepada Kim Hyorin, Kim Jonghyun, Sandara Park dan Jang Wooyoung. Dari kelas Vocal 2, selamat kepada Jessica Jung, Tiffany Hwang dan Kim Taeyeon. Dan maaf dari kelas Vocal 3, Wang Fei Fei, kemampuanmu masih belum memenuhi kualifikasi para juri.”
Astagaa… Hatiku serasa hancur, mereka, sahabatku, Luna dan Soyeon, tidak lulus?? Padahal suara mereka bagus, acting dan tarian mereka pun lumayan, bahkan lebih bagus dariku. Aku tidak mengerti dengan semua penilaian ini.
“Sudah kami duga…” Kata Luna parau.
“Apanya?” Tanyaku.
“Selain skill, mereka juga melihat fisik, dan kau lihat, kalau kami…”
“Stop…” Sergahku. “Ini tidak adil… Sungguh.”
Tiba-tiba ditengah kesedihanku, Ms. Sunny kembali memegang microphone dan hendak kembali mengucapkan sesuatu.
“Kami para juri sudah berdiskusi, sejujurnya memang hanya ada 7 main casting disini, namun keenam peserta yang lain, yang tidak lolos layak mendapat kesempatan, jadi kami memutuskan untuk menambah main castingnya dari 7 menjadi 14, dan berhubung hanya ada 13 peserta yang lolos sampai ketahap akhir, maka akan kami adakan lagi audisi untuk memilih satu orang yang beruntung yang akan bergabung.” Jelas Ms. Sunny.
Terdengar sorak sorai dari para peserta dan murid-murid lain terutama mereka yang tidak terpilih, khususnya Luna dan Soyeon. Akupun turut bersuka cita, karena akhirnya Luna dan Soyeon dapat ikut berlaga denganku di panggung sandiwara. Lalu, audisi ulangpun dilaksanakan, dan yang bergabung sebagai member ke-14 adalah Dong Taeyang dari kelas Vocal 3, terlihat bahwa orang yang paling senang karena terpilihnya Taeyang adalah Fei, dan sebaliknya Sandara yang terlihat paling tidak menyukainya.
“Baiklah selamat untuk ke-14 member, dan kita melakukan latihan setiap hari sepulang sekolah sampai selesai, latihan dibagi menjadi 4 tahap yang akan dilaksanakan dari minggu ini sampai 3 minggu kedepan, sama seperti audisi, minggu pertama untuk mengasah dialog dan latihan penjiwaan dalam setiap karakter latihan dilakukan diruang seni drama. Minggu keedua koreografi dalam setiap lagu yang dinyanyikan, serta latihan fisik dan tata panggung, dilakukan di ruang kaca dan aula olahraga.
“Minggu ketiga untuk latihan vokal dan penjiwaan lagu di ruang music and vocal coaching. Dan minggu terakhir untuk gladi resik di aula utama Kirin, jadi selama sebulan ini, saya harapkan kehadiran kalian full, tanpa ada kurang satu memberpun kecuali ada hal-hal tertentu. Mengerti!” Jelas Ms. Hyoyeon, wow terlihat sekali kalau dia merupakan guru yang paling tegas disekolah ini.
“Mengerti!” Jawab kami secara kompak.
***

-Minggu pertama-

Minggu ini merupakan minggu acting, dan yang menjadi guru pembimbing kami selama seminggu kedepan adalah Mrs. Im Yoona, guru acting terbaik di Kirin. Ia guru yang berperingai ramah, cantik, tinggi, berkulit putih, dengan rambut cokelat panjang sebahu yang dibuat sedikit bergelombang, benar-benar sosok idaman seorang pria.



“Oke, Hai semua. Sekedar informasi disini saya dan guru pembimbing lain tidak akan memberikan materi mengenai acting, maupun dance dan vocal karena itu semua sudah kalian dapatkan setiap hari di kelas, namun kami hanya akan fokus dengan eksekusi dari drama musical ini,
“Dan yang pertama akan saya lakukan adalah memilih pemeran utama protagonis untuk wanita dan pria, baik… Bagi wanita silakan kalian baca skrip ini serta skrip ini untuk yang pria dan berhubung hanya satu bait, maka waktu latihan kalian adalah selama lima menit.”
Cerita ‘Princess Katerinna and the Witches’ adalah kisah perjuangan seorang putri cantik, Katerinna yang mencoba menyelamatkan kerajaannya dari kutukan penyihir kembar cantik jahat yang malas, Terremar dan Maressen. Ia pergi bersama kekasihnya Pangeran Rolland dan mencari 3 peri penjaga, Medina, Glosia dan Serry. Ketiga peri itu tau cara mendatangkan salah satu keturunan Ratu Sellema, ratu terkuat dikerajaan peri.
Namun ternyata ketiga peri justru mengubah Putri Katerinna menjadi Ratu Katerinna, hal ini terjadi karena sebenarnya didalam diri Katerinna masih terdapat darah Ratu Sellema dan Katerinna tidak pernah mengetahui hal itu. Didalam perjalanan mereka bertemu dengan banyak halang rintang, mulai dari perampok, monster troll, sampai para peri hitam pembantu milik Terremar dan Maressen.
Dan dialog yang sedang kami pegang adalah dialog dimana sang putri berkata “Matilah kau Maressen!” Sambil menghunuskan pedang Ortdof ke jantung Maressen. Lalu sang putri berkata “Sekarang giliranmu Terremar! Terima ini!” sambil meloncat kearah Terremar dan menusukan pedang Ortdof tepat diatas kepala Terremar.”
“Waktu selesai anak-anak.” Mrs. Yoona memberi tanda, bahwa waktu latihan telah selesai.
“Yang saya panggil silakan maju. Baiklah mulai dari kau Seohyun.”
“Matilah…”
“Cut!” Potong Mrs. Yoona. “Terlalu flat, datar tanpa ekspresi.”
“Hyorin.”
“Matilah…”
“Cut! Apa-apaan kau ini, intonasinya kurang yang keras. Bukankah aku selalu bilang dikelas, kalau intonasi, ekspresi, artikulasi, sangat dibutuhkan dalam seni peran, jadilah berani, tangguh dan anggun seperti Katerinna.”
“Jiyeon.”
“Matilah kau…”
“Cut! Baru saja aku mengatakan, artikulasi jiyeon, artikulasi, a i u e o, ingat itu sangat penting, essential.”
“Sandara.”
“Matilah kau Maressen!” “Sekarang giliranmu Terremar! Terima ini!”
“Cut! Cukup baik.”
“Tiffany…”
“Matilah kau Maressen!” “Sekarang giliranmu Terremar! Terima ini!”
“Cut! Bagus Tiffany.”
Semua peserta telah diuji hingga pada akhirnya tiba giliranku.
“Taeyeon.”
“Matilah kau Maressen.” “Sekarang giliranmu Terremar. Terima ini!”
“Cut!” Mrs. Yoona tidak memberikan komentar apa-apa, aku rasa penampilanku biasa-biasa saja.
“Bagus Taeyeon, bagus.” Kata Fei yang duduk disebalahku.
“Apanya? Kalau memang bagus pasti Mrs. Yoona akan memberikan komentarnya.”
“Baiklah, berdasarkan keputusan dan penampilan, yang mendapatkan perannya adalah Kim Taeyeon. Selamat!”
“Selamat yaa…” Kata Luna dan diikuti ucapan selamat dari peserta yang lain dan tentu saja Wooyoung. Dan aku lihat Tiffany dan Sandara tampak tidak senang.
“Lalu, sang pangeran akan diperankan oleh Jang Wooyoung.” Semuanya ikut bertepuk tangan untuk kemenangannya. Akupun ikut senang karena nantinya aku akan beradu peran dengan Wooyoung.
“Untuk peran Terremar, selamat kepada Tiffany serta Maressen selamat kepada Sandara,” Kami kembali bertepuk tangan, namun nampaknya mereka tidak senang dengan peran yang mereka dapat.
“Medina, Glosia dan Serry akan diperankan oleh Luna, Soyeon serta Fei. Dua perampok, Donner dan Gorse oleh Jonghyun dan Kyuhyun. Troll oleh Taeyang. Terakhir, 4 peri hitam Jona, Hona, Sona dan Yona diperankan oleh Jessica, Hyorin, Seohyun serta Jiyeon.” Kata Mrs. Yoona.
“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa besok dengan naskah full.” Lanjutnya.
***

Semua murid terlihat sudah pulang. Dan ketika aku hendak ingin beranjak, tiba-tiba Sandara dan kedua dayangnya menghampiriku.
“Kalau dinaskah nanti ada adegan dimana Maressen menyiksa Katerinna, aku akan benar-benar melakukannya.” Katanya yang membuatku bergidik ngeri.
“Dan kalau ada adegan dimana Terremar merebut Rolland, aku akan melakukannya dengan baik.” Tiba-tiba Tiffany datang dari arah yang berlawanan tentu saja juga dengan kedua pengawalnya.
“Lalu Maressen merebut sang pangeran dari Terremar, membunuh Terremar serta menikahi Rolland.” Waw, aku bertanya, kenapa jadi mereka yang menentukan alur ceritanya?
“Yaa… Hanya dalam mimpimu Maressen… Dalam mimpi.” Nada bicara Tiffany benar-benar memancing pertengkaran.
Dan benar saja mereka berdua mulai cakar-cakaran, jambak-jambakan, dan berteriak dengan kata-kata yang tidak baik satu sama lain. Tiffany dengan Sandara, Jessica dengan Hyorin serta Seohyun dengan Jiyeon. Dan akupun memutuskan untuk menghindar dari huru hara yang sama sekali tidak menarik ini.
Tapi apa yang terjadi berikutnya? Ternyata mereka melihat aku yang hendak lari dari pertengkaran ini dengan muka yang marah serta haus darah. Aku berlari sekuat tenaga, namun Terremar, Maressen dan keempat peri hitamnya mulai mengejarku. Lari mereka benar-benar cepat, bagai terbang seperti hantu.
Sayangnya setiap kelas sepertinya sudah dikunci sejak sejam waktu pulang kami tadi sore. Aduh bagaimana ini? Aku mulai panik, mereka akan mencabik-cabikku jika berhasil menemukanku. Dan ketika aku berlari secara tiba-tiba ada orang yang menarikku lalu merapat kedinding. Ia membekap mulutku dengan tangan kanannya serta tangan kirinya digunakan untuk memegangiku.
Ia membawaku keruang latihan dance, yang baru aku tau bahwa ruangan ini tidak dikunci seperti ruangan lainnya. Ruangan ini sangat hampa dan tidak terdapat banyak barang, tidak ada meja dan kursi untuk siswa, dan dindingnya terbuat dari kaca. Kami bersembunyi dibelakang sebuah meja, meja guru aku rasa. Dari sebuah jendela, kulihat Seohyun dan Jessica mengintip keruangan ini, lalu karena mereka merasa bahwa tidak ada apa-apa, mereka langsung memutuskan untuk pergi.
“Sepertinya mereka sudah pergi…” Kata sang penyelamatku. Sepertinya aku kenal suara itu, dan benar saja. Ketika aku menoleh wajah yang sudah tak asing lagi bagiku berada disebelahku. Ia adalah Wooyoung.
“Sepertinya sudah.”
“Kenapa kau cari masalah dengan para penyihir itu?” Tanyanya.
“Ceritanya panjang. Sekarang bagaimana cara kita keluar tanpa diketahui mereka?”
“Kita tunggu, aku yakin setelah mereka mencari kau selama sepuluh menit, nantinya mereka akan kelelahan lalu menyerah dan pulang.”
“Sepuluh menit? Apa kau yakin secepat itu?”
“Sangat yakin, tipe gadis-gadis manja seperti mereka sudah gampang ditebak bagaimana sifatnya.”
“Baiklah.”
Selama kita menunggu, sama sekali tidak ada percakapan diantara kami, jangankan ngobrol, menatap matanya pun aku ragu. Aku selalu menghindar ketika ia mencoba untuk menatapku.
“Ayo, kita pergi sekarang,” Ajaknya. Akupun hanya mengangguk.
“Kamu, aku antar pulang ya?”
“Ahh… Gak usah repot-repot, rumahku deket kok, cuma di ujung blok ini.”
“Yaudah gak apa-apa, sekalian biar aku tau rumah kamu, biar gampang kalo nanti aku mau latihan bareng. Yaa… Mau ya aku antar?”
“Yaudah kalo maksa.”
“Siippphh,” Katanya sambil membuka pintu depan mobil sportnya, dan mempersilakan aku untuk naik. “Silakan…”
“Thanks…” Kataku yang agak salting diperlakukan seperti itu.
Perjalanan hanya memakan waktu lima menit karena memang jarak yang sangat dekat.
“Ini rumahku.” Kataku. “Mau mampir dulu?”
“Mau banget sih, tapi udah kemaleman, kapan-kapan aja yaa…”
“Oh yaudah, sampai jumpa besok ya…” Kataku sambil hendak membuka pintu, namun ia menahannya.
“Tunggu…” Katanya sambil berlari keluar, lalu memutari bagian depan mobilnya dan berdiri tepat disebelah luar pintu mobil dan membukakannya.
“Silakan…” Katanya lembut.
“Terima kasih sekali lagi.” Jujur sikapnya yang benar-benar gentle itu membuatku makin jatuh hati padanya.
Tunggu… Tadi aku bilang aku jatuh hati??? Ohhh… Tidak tidak, tidak boleh… Jatuh hati dengan Wooyoung sama dengan cari perkara dengan dua primadona itu… Enggak, jangan sampe aku jatuh hati sama dia.
***

Hari demi hari selama latihan di minggu pertama ini kami habiskan dengan menghapal dialog, berlatih ekspresi, intonasi, artikulasi dan mimik serta gesture tubuh. ada juga bagian dimana nanti aku dikaitkan pada sling lalu diangkat untuk membuat efek seolah-olah aku terbang. Sangat menyenangkan namun aku hanya mendapat kesempatan dua kali, pada saat aku diubah menjadi Ratu serta saat membunuh Terremar. Yang paling sering adalah Tiffany dan Sandara bahkan mereka terbang dengan sapu terbangnya, tapi sepertinya mereka tidak begitu suka dengan adegan yang menggunakan sling.
“Astagaaaa… Aku lupa dialognya Mrs.” Kata Sandara yang kembali lupa dialognya.
“Sandara, ini sudah ketiga kalinya… Baiklah turunkan dia… Ini bawa naskahmu dan ini berikan pada Tiffany.” Kata Mrs. Yoona sambil memberikan dua buah naskah dan menunjuk Tiffany yang masih bergelantungan dengan sling diatas.
“Action!” Terian Mrs. Yoona.
“Mereka akan rasakan kekejaman kita, iyakan Terremar?”
“Pastinya saudaraku tersayang. Hahahaha…”
“Ahhhhhhhh…” Mereka berdua mendadak histeris karena hilang keseimbangan diatas.
“Kau ini makanya jangan banyak bergerak.” Tuduh Sandara.
“Enak aja, kamu tuh yang dari tadi bergerak mulu, pake teriak lagi, bikin panik aja.”
Dan merekapun mulai cakar-cakaran lagi diatas sana. Tidak dimanapun, tidak didarat, tidak diudara mereka tetap saja bertengkar. Ckckck…
“Sudah, sudah jangan bertengkar!” Mrs. Yoona mencoba untuk melerai. “Ayo kita mulai lagi…”
Dan begitulah mereka mencoba adegan itu sampai lima kali, sampai akhirnya mereka benar-benar berhasil. Itu baru satu adegan, mereka masih punya lima adegan lagi yang menggunakan sling. Yaaahh… Semoga saja mereka sanggup.
Selain itu aku juga mendapat adegan yang menantang, selain saat harus adegan bertarung dengan dua perampok, adegan menantang yang lainnya adalah ketika aku harus… Mencium Rolland alias Wooyoung.
Jadi, setelah Maressen dibunuh, Terremar merasa sangat dendam, ia tau ia tidak akan dapat mampu melawan Ratu Katerinna, oleh karena itu rasa dendamnya ia tuangkan kepada kekasihnya Rolland dengan mengutuknya tertidur untuk selamanya. Ratu Katerinna merasa sedih, ia menangis dan air matanya jatuh di pipi sang pangeran. Selanjutnya sang Ratu mencium bibirnya sampai pada akhirnya Rolland kembali sadar.
Dan pada sesi latihan aku hanya selalu berpura-pura menciumnya. Jadi, bibirku dan bibirnya tidak bersentuhan namun hanya berjarak kurang dari 5 centimeter. Sebenarnya saat dipanggungpun aku dapat melakukan hal itu, namun Mrs. Yoona memaksaku untuk benar-benar melakukan ciumannya selama lima detik, agar lebih terasa nyata katanya.
Mimpi buruk, mereka, Terremar dan Maressen pasti akan mengutuk, menyihir dan membinasakanku kalo aku benar-benar menciumnya. Selama latihan bahkan diluar latihan mereka selalu mencoba untuk mem-bullyku, menumpahkan minuman, menempelkan permen karet di sepatuku, bahkan Sandara hampir melakukan kontak fisik (read: memukul), untungnya tidak terjadi karena dilerai oleh sahabat-sahabatku.
Mungkin sudah puluhan kali mereka mem-bullyku. Namun aku mencoba bertahan, dan berharap suatu saat nanti mereka akan berubah. Karena aku percaya, keajaiban itu akan datang dan dapat merubah apapun dari yang gelap menjadi terang, dari yang hitam menjadi putih, dan dari yang kurang baik menjadi lebih baik.
***